ORGANISASI WAJIB AGILE

Di masa pandemi ini, organisasi yang gesit (Agile Organization/AO) akan mampu mengungguli para kompetitornya karena mereka mampu beradaptasi, bahkan merangkul lingkungan yang tidak pasti dan tidak dapat diprediksi ini, yaitu dengan berpusat pada pelanggan daripada keuntungan. Dengan menetapkan prioritas dan menerapkan sistem manajemen kinerja yang tepat, mereka mampu mempercepat pekerjaan dan beradaptasi dengan lanskap industri baru. Ditambah pula, perusahaan telah cukup terbiasa dengan ritme kerja mingguan dan harian melalui pengaturan kerja jarak jauh. Selain itu, alat pelacak kinerja dan kesehatan juga memberikan gambaran kepada pemimpin untuk mengambil keputusan lebih cepat. Kuncinya adalah memiliki kapabilitas dinamik dan fondasi yang kuat di dalam organisasi.

Nike China memutuskan untuk bertransformasi dalam skala besar sebelum pandemik COVID-19. Pertama-tama, mereka membentuk beberapa tim lintas regu dengan tujuan untuk memikirkan strategi rantai nilai dari pelanggan. Tim ini dibentuk agar antar divisi tidak bekerja secara sendiri-sendiri dan untuk meningkatkan efektivitas secara optimal. Ketika COVID-19 datang menghantam, manajemen tidak menunda perubahan ini, sebaliknya, mereka mempercepat implementasinya dalam kurun waktu tiga bulan. Hasilnya, penjualan kembali meningkat dan keterlibatan anggota dalam organisasi pun meningkat.

Di masa pandemik ini, perubahan di seluruh model operasi terlihat menakutkan. Sementara itu, tekanan terhadap bisnis untuk meningkatkan produktivitas, kecepatan, komitmen pelanggan, dan keterlibatan karyawan terus meningkat. Sebagian besar organisasi merasa lebih nyaman untuk melakukan perubahan di waktu yang tenang, tetapi banyak pula yang menyadari bahwa waktu tenang seperti itu tidak akan kembali. Beberapa pemimpin melihat tantangan ini sebagai kesempatan untuk mengubah status quo dan menetapkan kembali cara kerja baru yang lebih efektif.

Berikut Langkah-langkah yang dapat diterapkan perusahaan untuk beralih ke model perusahaan yang lebih gesit:

  1. Pastikan Top Management siap berubah.

    Sebelum menjadi organisasi yang gesit, pastikan Top Management memahami apa itu agile dan apa yang bukan. Penting bagi mereka untuk memahami dan mendukung konsep ini dalam memimpin perubahan. Pemahaman yang mendalam dapat dicapai dengan beberapa cara praktis, seperti dengan studi banding, memahami konsep tingkat perusahaan, dan konsultasi menyeluruh tentang kesiapan perusahaan menjadi agile.

  1. Bertekad dan mengejar nilai.

    Pada tahap ini organisasi melakukan upaya bersama untuk menangkap peluang. Top Management merumuskan nilai yang ingin dicapai, kemudian mendelegasikannya kepada tim (baik tim lintas fungsi maupun yang bukan) dan memonitornya. Beberapa organisasi langsung memulai serentak, sedangkan beberapa yang lain menjalankan transformasi secara bertahap. Organisasi yang lebih besar cenderung melatih para pemimpin mereka di unit bisnis yang berbeda untuk menjalankan transformasi lokal. Dalam semua kasus, pemimpin senior harus menjadi panutan dan organisasi dapat menggunakan OKR untuk menunjang transformasi tersebut.

  1. Mendorong perubahan pada lima elemen model operasi.

    Agile tidak hanya mengubah tim menjadi lebih gesit, tetapi membutuhkan perubahan pada seluruh model operasi untuk meningkatkan dan memperkuat satu sama lain. Sayangnya, banyak yang mencoba mengubah sedikit demi sedikit ketika merumuskan model operasi yang baru, misalnya, hanya berfokus pada cara kerja, atau struktur pelaporan, atau mengadopsi teknologi baru. Mereka yang memandang model operasi sebagai sebuah sistem dan menghubungkan semua bagiannya (strategi, struktur, proses, orang, dan teknologi) lebih sukses dalam melakukan transformasi organisasi. Perusahaan dapat membentuk beberapa tim SCRUM untuk masing-masing elemen model operasi.

  1. Pertahankan kecepatan tinggi dan gunakan front-runners.

    Transformasi yang sukses cenderung menyelesaikan fase utama dalam waktu kurang dari 18 bulan. Untuk organisasi yang lebih besar, transformasi mungkin memerlukan beberapa tahap yang masing-masing dilaksanakan dalam waktu kurang dari 18 bulan. Namun perlu diwaspadai, waktu proses yang terlalu lama akan mengurangi peluang sukses. Transformasi yang berhasil cenderung meluncurkan front-runners lebih awal.

Agile Organization tidak lagi merupakan pilihan, tetapi menjadi tujuan bagi organisasi yang ingin bertahan di tengah ketidakpastian. Sebelum menjadi agile, pastikan organisasi memiliki kapabilitas dinamik dan fondasi yang kuat. Mengenali kemampuan organisasi dan konsep agile yang tepat adalah langkah awal untuk menuju organisasi yang lebih sukses.

 

Sumber:
https://www.betterteam.com/what-is-an-agile-organization
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/agility-in-the-time-of-covid-19-changing-your-operating-model-in-an-age-of-turbulence
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/the-keys-to-organizational-agility
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/the-impact-of-agility-how-to-shape-your-organization-to-compete
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/doing-vs-being-practical-lessons-on-building-an-agile-culture

Recommended Posts