TAK HANYA BUTUH MANAJER, KARYAWAN MILENIAL JUGA BUTUH MENTOR

Generasi milenial tidak hanya membutuhkan sosok pemimpin, melainkan juga mentor yang dapat membuat mereka semakin percaya diri serta memberikan semangat untuk bertahan ketika menghadapi berbagai pekerjaan yang berisiko besar. Mereka tidak ingin terikat dengan sistem manajemen kuno yang hanya menentukan aturan dan batasan. Bagi karyawan milenial, mereka membutuhkan sosok manajer yang dapat menciptakan hubungan kepercayaan dan pengertian terhadap karyawannya. Karyawan harus merasa bebas untuk mendekati manajer dan berbicara secara terbuka tanpa harus merasa terintimidasi, namun tetap menghormati batasan antara manajer dan karyawan.

  1. Membangun hubungan yang saling mengerti dan percaya

    Karyawan harus merasa bahwa manajer tidak akan mengarahkan mereka pada hal yang salah. Ketika karyawan merasa bahwa manajer mengetahui dan menghargai potensi mereka, maka karyawan pun akan berusaha lebih keras untuk unggul dalam segala pekerjaan yang mereka lakukan. Dinamika pendampingan ini berguna untuk membangun kepercayaan dan kesetiaan yang lebih besar dibandingkan kenaikan atau bonus, karena karyawan dan manajer dapat memupuk hubungan timbal balik, bukan sekadar transaksi.

  2. Memberi pengertian untuk belajar dari kesalahan

    Pemimpin harus mengajarkan karyawan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, serta memiliki akuntabilitas untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Karyawan takkan berkembang saat kita hanya menyalahkan atau memberikan ceramah kepada mereka. Sebaliknya, karyawan perlu diberi pengertian bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Dalam hal ini, manajer dapat memberikan dukungan secara mental bahwa karyawan mampu memperbaiki kesalahan untuk dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

  3. Memberi ruang untuk berkembang

    Jangan sampai seorang pemimpin memberikan rasa takut kepada karyawan milenial saat mereka mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Hal tersebut justru akan membuat kinerja karyawan semakin memburuk. Tidak hanya memberi pengertian mengenai kesalahan mereka, seorang pemimpin seharusnya dapat mendorong karyawan untuk memperbaiki kesalahan mereka serta keluar dari zona nyaman mereka untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi. Dengan begitu, ketika karyawan melakukan kesalahan, ia akan tahu cara menghadapinya secara bertanggung jawab dan penuh percaya diri.

Pada akhirnya, seorang pemimpin harus memahami bahwa saat bekerja dengan generasi milenial, mereka harus lebih melihat proses untuk mencapai hasil, bukan hanya sekedar melihat hasil kerja karyawan milenial. Selain itu pemimpin juga perlu memberi ruang kepada karyawan untuk belajar dan berkembang sehingga produktivitas tim secara keseluruhan dapat berjalan dengan baik.

(BACA JUGA: PROGRAM MENTORING)

APA YANG DITUNTUT GENERASI MILENIAL DI TEMPAT KERJA?

Bila dilihat dari generasi X dan generasi sebelumnya, fenomena yang kerap terjadi adalah tenaga kerja generasi milenial lebih mudah berpindah pekerjaan. Survei Deloitte (2017) pada 30 negara maju dan berkembang, 38% tenaga kerja generasi milenial berencana pindah perusahaan dalam 2 tahun mendatang. Bahkan, tidak jarang pula mereka benar-benar berpindah industri. Kecilnya retensi tenaga kerja generasi milenial membuat perusahaan harus mengeluarkan banyak biaya untuk perputaran karyawan setiap tahunnya. Lalu apa sebenarnya yang diharapkan oleh tenaga kerja generasi milenial di tempat kerja?

Pada TedX, Keevin O’Rourke, CEO Monday Creatives sekaligus mewakili generasinya, memaparkan bahwa ada dua hal utama yang dituntut oleh generasi milenial di tempat kerja; otonomi dan arti.

Otonomi

Otonomi yang dimaksud, dijabarkan lebih jelas oleh Daniel Pink dalam bukunya Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us, dibagi menjadi 4 bagian sederhana:

  • What to do

    Generasi milenial akan lebih suka bila mereka diberi kebebasan terhadap role apa yang mereka mau ambil dalam perusahaan. Mereka ingin melakukan sesuatu yang mereka sukai, dan meskipun mereka tidak mempunyai hak untuk memilah segala hal, setidaknya dengan adanya kebebasan ini, mereka merasa tugas yang dibebankan sesuai dengan karakteristik masing-masing.

  • When to do

    Flexible work-time, tidak dapat dipungkiri, termasuk tuntutan utama generasi ini. Tidak ada lagi batasan ‘jam masuk kerja’ dan ‘jam pulang kerja’, apalagi ‘sembilan jam sehari’. Konsep mindset mereka adalah; pekerjaan mereka, tanggung jawab mereka. Selama mereka mengumpulkan apa yang diminta perusahaan tepat pada waktunya, mereka tidak suka diatur kapan mereka harus melakukan sesuatu.

  • How to do it

    Cara konvensional tidak lagi ampuh untuk tenaga kerja generasi milenial. Generasi ini lebih terbuka pikirannya, lebih kreatif dan lebih mampu menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Hal ini membuat usaha pemecahan masalah oleh generasi ini lebih efektif dan efisien. Perusahaan harus memberikan ruang bagi karyawan generasi milenial untuk memecahkan masalah dengan caranya sendiri.

  • Whom to do it with

    Generasi milenial tahu apa yang mereka ingin lakukan dan dengan siapa mereka ingin melakukannya. Mereka lebih suka bekerja dengan orang-orang yang mereka sudah kenal sebelumnya dan orang yang mereka tahu akan mendatangkan benefit untuk mereka. Karena itu, generasi ini cenderung lebih suka memiliki bargaining power dalam menentukan dengan siapa mereka harus bekerja.

Arti

Dibanding generasi sebelum mereka, generasi milenial lebih tidak mengejar reward yang berupa upah. Dibanding dengan upah material, mereka lebih suka mengerjakan sesuatu yang memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi mereka. Hal ini juga termasuk alasan mengapa ada tren ‘I decided to follow my passion’ pada generasi ini. Tingkat kebutuhan mereka sudah mencapai level dimana mereka membutuhkan aktualisasi diri dalam pekerjaan. Bukannya tidak mencari kestabilan finansial, namun diatas segalanya mereka lebih willing untuk berkorban demi sesuatu yang benar-benar mereka sukai dibanding sebuah obligasi.

Dapat disimpulkan, bahwa generasi milenial memang adalah generasi yang cenderung lebih sulit diatur dibanding generasi sebelumnya. Mereka menuntut agar tidak dikekang, diberi suara dan perhatian, juga diberi kesempatan. Mereka menuntut bargaining power yang belum siap diberikan kebanyakan perusahaan yang cenderung masih terikat pesona cara kerja tradisional. Namun di era baru memasuki 2020, perusahaan harus menerima perubahan masif ini. Pasalnya, diperkirakan di tahun 2020, generasi milenial sudah mendominasi 50% operasi seluruh perusahaan di dunia. Perusahaan yang masih terikat cara-cara konvensional dapat dipastikan tidak mampu bertahan, dan perusahaan yang mampu beradaptasi dengan tuntutan generasi dan menggunakan powernya untuk maju akan menang di kompetisi pasar.