PENTINGNYA RESKILLING KARYAWAN DI DALAM PERUSAHAAN

Apakah organisasi siap menghadapi tuntutan globalisasi yang selalu berkembang? Pandemi telah menyebabkan percepatan digitalisasi yang mengakibatkan beberapa jenis pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi. Menurut laporan World Economic Forum (2020), terdapat 97 juta pekerjaan baru yang akan muncul pada tahun 2025 akibat pandemi, digitalisasi, dan otomatisasi. Di lain sisi, penelitian McKinsey (2020) menemukan bahwa 87% perusahaan mengalami kesenjangan keterampilan, namun lebih dari setengahnya tidak memahami cara mengatasi masalah ini dengan baik. Oleh karena itu, organisasi perlu meningkatkan kompetensi karyawan yang relevan untuk menjawab tantangan di masa mendatang.

(BACA JUGA: KETERAMPILAN BARU DAMPAK TEKNOLOGI DIGITAL)

Salah satu cara yang dianggap efektif dalam mengatasi kesenjangan keterampilan di dalam perusahaan adalah program reskilling. Reskilling merupakan program pembelajaran keterampilan baru yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan saat ini. Reskilling dapat menjadi salah satu strategi untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan bisnis yang terus berubah. Di sisi lain, bagi karyawan reskilling dapat memberikan peluang untuk meningkatkan kompetensi, mengubah peran atau bahkan memberikan kesempatan promosi di dalam organisasi.

Beberapa manfaat reskilling, yaitu:

  • Menekan biaya tambahan untuk mengisi posisi yang kosong

    Hilangnya pekerjaan lama dapat berpotensi menimbulkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga muncul biaya pesangon. Di sisi lain, untuk mengisi kebutuhan keterampilan yang baru, perusahaan cenderung memilih opsi untuk membuka lowongan sehingga timbul biaya rekrutmen dan seleksi. Untuk mengurangi biaya rekrutmen, organisasi dapat memberikan program reskilling agar karyawan mendapatkan keterampilan yang baru sehingga mampu mengisi posisi lain yang dibutuhkan.

  • Mengurangi turnover karyawan

    Perhatian dan kepedulian organisasi terhadap karyawannya adalah salah satu solusi masalah turnover. Pernyataan ini juga didukung oleh penelitian Valamis (2022) yang menemukan bahwa 94% karyawan yang merasa dipedulikan cenderung bertahan di dalam organisasi. Di sisi lain, IBM (2010) juga menemukan bahwa 42% karyawan akan bertahan pada organisasi yang memberikan program pelatihan yang dapat menjadi investasi jangka panjang terhadap karier karyawan, seperti program reskilling.

  • Mempertahankan karyawan yang sesuai dengan budaya organisasi

    Perlu digarisbawahi bahwa sulit untuk menemukan karyawan yang cocok dengan budaya serta nilai organisasi. Kenyataannya, tidak semua karyawan lama dapat menginternalisasi nilai dan budaya organisasi dengan baik, apalagi karyawan baru. Untuk menanamkan dan menyelaraskan budaya, organisasi membutuhkan waktu yang lama. Jika karyawan yang sudah menginternalisasi nilai dan budaya organisasi tiba-tiba diganti, organisasi akan mengeluarkan usaha yang besar lagi untuk menanam dan menyelaraskan nilai-nilai organisasinya pada karyawan baru. Di sisi lain, lebih mudah untuk memberikan keterampilan baru bagi karyawan karena dapat langsung dipraktikkan selepas mengikuti program reskilling.

  • Karyawan yang fleksibel

    Karyawan yang fleksibel merupakan karyawan yang mampu merespon perubahan atau masalah dengan baik. Salah satu cara untuk mengembangkan fleksibilitas karyawan adalah program reskilling. Ketika terdapat posisi yang kosong, organisasi berharap salah satu karyawannya mampu mengisi posisi tersebut daripada merekrut orang baru karena lebih hemat biaya. Melalui program reskilling, karyawan akan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas sehingga mampu mengambil peran dan tanggung jawab lain yang sedang dibutuhkan.

Jika organisasi memerlukan peran atau pekerjaan baru tanpa mengganti karyawan yang sudah selaras dengan organisasi, reskilling merupakan jawaban masalah talenta yang dibutuhkan. Melalui program reskilling, organisasi dapat mempersiapkan karyawannya untuk menghadapi berbagai macam perubahan di lingkungan bisnis saat ini ataupun di masa depan. Program reskilling dapat diberikan secara proaktif untuk membantu karyawan mempersiapkan diri menghadapi masalah. Jadi, ketika terjadi kesenjangan posisi, karyawan tidak perlu tergesa-gesa dalam mempelajari keterampilan baru.

Referensi:
https://www.insperity.com/blog/reskilling/
https://www.weforum.org/agenda/2020/01/reskilling-revolution-jobs-future-skills/
https://emeritus.org/blog/what-is-reskilling-definition/
https://www.valamis.com/hub/reskilling
https://www.mckinsey.com/business-functions/people-and-organizational-performance/our-insights/the-organization-blog/piecing-together-the-talent-puzzle-when-to-redeploy-upskill-or-reskill
https://www.ibm.com/training/pdfs/IBMTraining-TheValueofTraining.pdf

Recommended Posts