TIPS MENGADOPSI OKR UNTUK STARTUP

Colleagues giving a fist bump

Menurut studi Cambrige Associates (2017), dari 27.000 startup, hampir 60% di antaranya mengalami kegagalan. Laporan lain dari Emborker (2021) menyatakan bahwa 42% startup gagal akibat salah mendefinisikan pasar, sedangkan 29% lainnya gagal akibat kurang mampu mengelola dana. Untuk mengatasi masalah tersebut, startup membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan. Startup yang sukses membutuhkan framework manajemen kinerja yang tepat.

Salah satu framework yang dapat digunakan startup untuk mengukur pertumbuhan perusahaan dan mengevaluasi kinerja adalah Objective & Key Result (OKR). Hasil implementasi OKR tersebut akan membantu startup mengoptimalkan proses bisnisnya. Selain itu, OKR juga mampu mengomunikasikan kemajuan inisiatif lintas departemen dalam bentuk arahan untuk mencapai objectives dan harapan bagi setiap pihak yang berkontribusi. Perlu digaris bawahi bahwa OKR tidak akan menyelesaikan semua masalah.

Umumnya, startup menghadapi tantangan yang lebih berat daripada organisasi yang lebih mapan ketika mengadopsi OKR. Salah satu tantangan yang mungkin dihadapi adalah penolakan karyawan dalam mengimplementasikan OKR hingga menjalankan OKR dengan konsep yang salah. Untuk mengatasi tantangan tersebut, berikut beberapa tips untuk mengimplementasikan OKR pada startup:

  1. Menyosialisasikan OKR pada seluruh anggota.

    Motivasi yang rendah untuk menjalankan OKR erat kaitannya dengan pemahaman yang kurang tentang OKR. Oleh karena itu, pemimpin perlu memiliki strategi untuk mengenalkan kerangka kerja OKR secara berkala kepada anggotanya. Kenali manfaat dan cara kerja OKR yang mendukung kemajuan perusahaan dengan jelas. Jabarkan juga bagaimana kerangka OKR secara khusus memenuhi kebutuhan, tuntutan, dan solusi dari tantangan yang timbul di perusahaan startup.

(Baca Selengkapnya di OKR UNTUK MENGUKUR KINERJA)
  1. Jalankan OKR yang sederhana.

    Startup memiliki anggota yang cenderung lebih sedikit sehingga tidak banyak inisiatif yang dapat dilakukan dalam waktu bersamaan. Untuk itu, pemimpin dapat membatasi di satu hingga tiga objective yang benar-benar menjadi fokus saat ini. Selanjutnya, tim dapat mengadopsi objective dan membuat Key Result yang mendukung pencapaian objective.  Startup juga dapat mengadopsi siklus yang lebih pendek, yaitu empat hingga enam minggu, serta lebih banyak menggunakan jenis key result yang mendukung pencapaian milestone.

(Baca Selengkapnya di JENIS KEY RESULT UNTUK OKR)
  1. Menentukan objective yang terpenting.

    Croll dan Yoskovitz (2013) menyatakan bahwa startup akan melalui beberapa tahap sebelum ia menjadi stabil. Masing-masing tahap tersebut memiliki prioritas yang perlu dipenuhi untuk dapat melaju ke tahap yang berikutnya. Berikut 5 tahap perkembangan startup untuk menurut Croll dan Yoskovitz:

  • Tahap 1: Empathy

    Prioritas: memecahkan masalah yang menjadi peluang pasar.
    Contoh objective: “Meningkatkan pemahaman terhadap kebutuhan dan tren pasar.”

  • Tahap 2: Stickiness

    Prioritas: menciptakan produk yang menjawab kebutuhan pasar.
    Contoh objective: “Meningkatkan kualitas produk yang menjawab kebutuhan masyarakat.”

  • Tahap 3: Virality

    Prioritas: mendorong pertumbuhan startup melalui konsumen dan fitur startup
    Contoh objective: “Meningkatkan keterjangkauan produk/layanan startup.”

  • Tahap 4: Revenue

    Prioritas: mempertahankan kinerja untuk mengembangkan perusahaan.
    Contoh objective: “Memperluas bisnis dan menjangkau konsumen di segmen berbeda”

  • Tahap 5: Scale

    Prioritas: meningkatkan kinerja perusahaan.
    Contoh objective: “Mengembangkan bisnis baru”

  1. Menghindari objectives yang terlalu agresif.

    Menetapkan objective memang harus agresif, namun juga harus realistis untuk dicapai sehingga karyawan tetap termotivasi. Pemimpin perlu memahami tahap startup saat ini untuk menentukan OKR yang sesuai dengan prioritasnya. Startup pada tahap pertama kemungkinan besar tidak dapat mencapai objectives yang berhubungan dengan tahap keempat. Objective yang terlalu agresif dan di luar kemampuan startup akan menyebabkan frustasi.

  2. Memberikan training

    Setelah memberikan penjelasan dan pengenalan OKR, pemimpin perlu memfasilitasi karyawan dengan rangkaian training seperti pendampingan dan konsultasi. Ada macam-macam jenis pelatihan OKR yang dapat diberikan, seperti seminar, workshop, dan mentoring OKR. Training lanjutan ini akan mendorong dan mendukung proses pencapaian OKR.

Implementasi OKR memerlukan pemahaman dan penerimaan menyeluruh. Sederhananya, dimulai dari memahami prioritas perusahaan dan bagaimana pemimpin memanfaatkan framework OKR secara maksimal untuk mencapai prioritas tersebut. Untuk dapat mendukung prioritas ini, karyawan juga perlu tetap selaras dengan objectives pemimpin.

 

Referensi:

https://www.whatmatters.com/articles/why-startups-should-use-okrs/

https://hbr.org/2021/05/why-start-ups-fail

https://fortune.com/2017/06/27/startup-advice-data-failure/

https://nanoglobals.com/startup-failure-rate-myths-origin/#fn:2

https://www.forentrepreneurs.com/why-startups-fail/

https://www.embroker.com/blog/startup-statistics/

https://visible.vc/blog/okrs-startups/#why-are-OKRs-so-effective-for-startups

https://medium.dave-bailey.com/how-to-implement-okrs-in-an-early-stage-company-51efad27fb5b

Croll, A., & Yoskovitz, B. (2013). Lean analytics: Use data to build a better startup faster. O’ reilly.